Dad, I Miss You...
"Sometimes you don't realize what you have and how precious it is to you until you loose it then you realize that you will never get it back again"
Kehilangan. Pergi. Jauh. Tanpa kembali.
Pernahkah kalian merasa dan mengalami kehilangan?
Kehilangan barang-barang kecil namun penting yang umum terjadi di sekolah seperti buku catatan, tip-ex, pena, pensil dan sejenis alat tulis lainnya?
Kehilangan tas yang di dalamnya berisi semua barang dan berkas penting seperti dompet berikut sejumlah uang, ktp, sim, pasport, handphone, blackberry dan lain-lain?
Ditinggal oleh pacar terkasih karena dia lebih memilih perempuan lain daripada dirimu sehingga kita merasa sangat kehilangan karena selama ini sudah menggantungkan hidup kepadanya?
Atau kehilangan seseorang yang kita cintai dan kita tahu dia, beliau tidak akan pernah kembali lagi?
Ya. Aku pribadi sering mengalami kehilangan.
Mulai dari pena tinta yang baru beberapa kali aku pakai namun lenyap entah dimana.
Kehilangan handphone yang dengan teledornya aku tinggal dimotor namun ketika aku ingin mengambilnya lagi sudah dibawa pergi oleh entah siapa.
Untungnya aku tidak pernah terlalu larut dalam kisah cinta monyet jaman SMP dulu yang memang aku ditinggal oleh si pelaku dengan alasan yang menurutku logis tapi belakangan aku tahu itu hanya fiksi belaka.
Namun, yang paling menyakitkan kehilangan orang yang berarti dalam hidupku..
Kakek dari mamaku yang bahkan telah pergi meninggalkan aku jauh sebelum aku lahir. Wajah, suara, bau tubuhnya, sifatnya dan segala tentangnya pun aku tidak tahu. Hanya sebatas figura di rumah pamanku yang memberi gambaran seperti apa wajah kakekku. Pria tampan, tinggi layaknya pamanku dan dihormati oleh orang banyak menurut cerita dari mamaku.
DI masa aku telah lahir di dunia ini, sudah 5 kali aku melihat langsung orang-orang yang aku cintai pergi tanpa kembali.
Kakek dari bapakku, disusul istrinya yang adalah nenekku.
Kemudian Nenek dan adik dari pihak mama.
Terakhir, kejadian akhir Agustus lalu, sembilan hari setelah aku menginjak usia 18 tahun, Bapak pergi meninggalkan aku dan orang-orang yang mencintainya.
Sungguh mendadak tanpa tanda apa-apa darinya.
Ceritanya cukup ironis memang. Pulang dari PRA PKK di universitasku, aku mendapat kabar bapak masuk rumah sakit gara-gara kecelakaan. Reaksiku biasa saja karena aku kira hanya kecelakaan biasa dan hanya luka ringan. Tidak berapa lama kakakku pulang dengan buru-buru untuk mengambil sesuatu dan langsung kembali lagi ke rumah sakit. Dia sempat berkata kalau bapak tidak sadarkan diri. Reaksiku masih biasa saja karena aku yakin bapak akan segera sadar dan kembali ke rumah dengan sehat.
Singkat cerita, bapak dibawah ke ICU karena menurut dokter jantungnya mengalami serangan dan melemah. Dan tidak lama bapak sudah tiada.
Sungguh. Kejadian ini tidak ada yang menduga. Padahal paginya aku masih meilhat bapakku memasak bubur untuk sarapan. Aku masih sempat berpamitan sebelum berangkat ke kampus. Aku masih sempat tidur dengannya malam sebelumnya. Ya Tuhan. Siapa yang menduga bapak akan pergi secepat itu.
Dan sekarang aku benar-benar rindu bapak. Aku rindu bau tubuhnya. Rindu suaranya. Rindu melihat tubuhnya yang sudah agak membungkuk itu. Rindu melihatnya duduk menonton televisi malam hari ketika waktunya aku tidur. Rindu sentuhan tangannya ketika mengurut badanku yang lelah. Rindu melihatnya di sebelahku ketika aku bangun pagi. Rindu membuatkan teh, atau sekedar memasakkan mie untuknya. Rindu segala tentangnya. Rindu tentang segala perhatiannya kepadaku. Ya tuhan air mata ini pasti selalu berjatuhan ketika mengingat segala tentangnya.
Tapi semua tentu sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Berapa panjang usiaku, kamu, mereka, semua sudah ditakdirkan Tuhan. Bahkan daun yang jatuh dari pohonnya pun juga sudah ditakdirkan oleh Tuhan bukan?
Satu kalimat, 4 kata untuk Bapak yang sekarang di surga,
Dad, I Miss You...
Dari,
Anak Perempuanmu Satu-Satunya, Meme..

Komentar
Posting Komentar